Menu
  • Layanan Kami
  • Donasi Bencana
  • EFAST
  • Galeri
  • Tentang
  • Edukasi

Acute Mountain Sickness (AMS)

1 Oktober 2021
3 menit

Wah, aku sedih sekali ditinggal di sini..
Tapi aku gak sanggup..

Lagi asik-asik naik gunung bareng sahabat, eh, tiba-tiba merasa tidak enak badan. Tubuh akan terasa kelelahan, sakit kepala, mual, pusing, kehilangan, nafsu makan, dan sesak napas. Mungkin tubuhmu belum terbiasa dengan kegiatan tersebut dan butuh adaptasi lebih untuk dapat bertahan.

Tunggu dulu, jangan langsung bersedih...

Satu penyakit yang sering menyerang pendaki saat mendaki gunung adalah Acute Mountain Sickness, atau sering disingkat dengan sebutan AMS. Acute Mountain Sickness merupakan penyakit yang kerapkali menyerang para pendaki yang tubuhnya belum cukup terbiasa dengan ketinggian gunung yang sedang didakinya.

Gejala AMS ringan antara lain meliputi sakit kepala, mual dan pusing, kehilangan nafsu makan, kelelahan, sesak napas, tidur terganggu, serta perasaan lemas untuk bergerak.

AMS seringkali disebabkan oleh adanya faktor berupa perbedaan ketinggian. Salah satu langkah pencegahannya yaitu melalui aklimatisasi yang baik. Aklimatisasi sendiri merupakan suatu proses penyesuaian tubuh seorang pendaki gunung terhadap ketinggian gunung yang sedang didakinya.

Untuk menghindari diri dari gejala AMS saat mendaki, apa saja hal yang harus dilakukan oleh seorang calon pendaki gunung sebelum memulai perjalanannya? Berikut akan dipaparkan beberapa trik yang dapat dicoba oleh calon-calon pendaki gunung sebelum memulai petualangannya.

Pendakian Dilakukan secara Bertahap

Para pendaki gunung yang masih berstatus pemula haruslah melakukan penyesuaian dengan cara mendaki gunung secara bertahap dari segi ketinggiannya. Tingginya pun disarankan agar tidak lebih dari 1.000 meter dari permukaan laut (mdpl) untuk perjalanan naik gunung yang pertama kali.

Ritme yang Konstan

Seringkali, AMS akan menyerang para pendaki gunung yang berada pada ketinggian sekitar 2.500 mdpl. AMS juga tergolong suatu jenis penyakit yang tidak dapat diprediksi terlebih dahulu. Kadang kala, AMS bahkan juga dapat menyerang para pendaki pendaki gunung yang sudah profesional dan berpengalaman karena sejumlah faktor, salah satunya ritme mendaki yang tidak konstan.

Tidak Terburu-Buru

Salah satu tips lainnya dalam rangka menghindari AMS yaitu dengan mendaki secara perlahan. Hindari kegiatan mendaki yang terlalu cepat, terutama pada saat memasuki zona highaltitude. Untuk pendakian yang telah mencapai ketinggian di atas 4.000 mdpl, disarankan agar para pendaki hanya meningkatkan ketinggian 300 mdpl per hari berikutnya. Setiap 900 mdpl dari elevasi yang diperoleh oleh pendaki, sangat disarankan untuk selalu mengambil hari istirahat atau bermalam untuk menyesuaikan diri dengan ketinggian yang telah dicapai.

Bermalam di Area yang Rendah

Saat seorang pendaki mendaki ke area ataupun tempat yang lebih tinggi, sangat dianjurkan agar pendaki tersebut bermalam di tempat yang lebih rendah. Contohnya, saat telah mendaki hingga mencapai ketinggian 2.700 mdpl, sebaiknya pendaki dapat bermalam pada ketinggian 2.500 mdpl. Walaupun hal ini terlihat seperti menghabiskan waktu yang sia-sia, tetapi cara tersebut merupakan langkah yang paling tepat agar tubuh dapat beradaptasi ataupun terbiasa dengan lingkungan sekitar.

Jaga Daya Tahan Tubuh

Saat sedang melakukan pendakian, pastikan asupan makanan serta minuman tetap terjaga agar daya tahan tubuh tetap stabil serta tubuh tidak mengalami dehidrasi. Faktor-faktor yang sangat penting dalam hal ini yaitu minum air mineral serta istirahat yang cukup pada malam harinya. Proses pendakian dari pagi ke sore juga disarankan agar tidak lebih dari 8 jam. Setelah itu, istirahat yang teratur dan cukup sebaiknya dilakukan selama sekitar 6-8 jam.

Proses aklimatisasi seringkali disertai dengan kehilangan cairan tubuh. Mengonsumsi banyak cairan sebanyak sekitar 4-7 liter air per hari dapat secara efektif mencegah tubuh dari peristiwa dehidrasi. Untuk asupan makan, para pendaki gunung disarankan untuk mengonsumsi makanan berkalori tinggi. Selanjutnya, patra pendaki juga disarankan untuk menghindari konsumsi minuman beralkohol serta selalu menggunakan pakaian maupun peralatan yang nyaman.

Apabila gejala AMS ringan mulai terlihat, janganlah melakukan pendakian lebih tinggi hingga gejalanya berkurang. Jika gejala meningkat, segera turun ke area atau tempat yang lebih rendah. Selalu pastikan bahwa setiap orang dalam tim pendakian gunung benar-benar mampu beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan iklim, cuaca, serta ketinggian sebelum mendaki ke area atau tempat yang lebih tinggi.

Referensi:

  1. Fiore DC, Hall S, Shoja P. Altitude illness: risk factors, prevention and treatment. Am Fam Physician. 2010;82(9):1103–10.
  2. Clarke C. Acute mountain sickness: medical problems associated with acute and subacute exposure to hypobaric hypoxia. Postgrad Med J. 2006;82(1):748–53.
  3. Barry PW, Pollard AJ. Altitude illness. BMJ. 2003;326(1):915–19.