Menu
  • Layanan Kami
  • Donasi Bencana
  • EFAST
  • Galeri
  • Tentang
  • Edukasi

Epistaksis? Eh, Gimana Ya?

1 Oktober 2021
2 menit

Eh, eh, kok hidungku berdarah?
Waduh, harus ngapain ya?

Epistaksis atau mimisan adalah kondisi terjadinya perdarahan pada hidung. Walaupun terkesan berbahaya, epistaksis sebenarnya merupakan kondisi emergensi telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) yang paling umum terjadi. Sebanyak 60% populasi manusia pernah mengalami epistaksis minimal sekali dalam hidupnya dan hanya sebesar 6-10% yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Epistaksis terbagi menjadi dua jenis, yaitu epistaksis anterior dan epistaksis posterior. Dari kedua jenis mimisan tersebut, epistaksis anterior lebih umum terjadi dibandingkan dengan epistaksis posterior. Sebanyak 90% dari kejadian epistaksis anterior disebabkan oleh perdarahan pada pleksus Kiesselbach (Little’s area) yang terletak di daerah anterior rongga hidung. Pleksus Kiesselbach merupakan anyaman cabang terminal pembuluh darah yang mendarahi rongga hidung, yaitu arteria ethmoidalis anterior, arteria ethmoidalis posterior, arteria sphenopalatina, arteria palatina mayor, dan arteria labialis superior. Selain dilapisi oleh lapisan mukosa yang tipis, letak pleksus ini yang dekat dengan jalur masuk rongga hidung menyebabkan pleksus Kiesselbach sangat sensitif terhadap suhu, kelembaban, dan rentan mengalami trauma sehingga menyebabkan fenomena epistaksis atau yang umum dikenal dengan mimisan.

Lalu, kalau mimisan terjadi, bagaimana ya?

  • Pertama-tama, lakukan pengecekan pada ABC (Airway, Breathing, Circulation). Pastikan bahwa korban stabil dan cek pula kesadarannya
  • Lakukan identifikasi perdarahan
  • Tenangkan pasien! Lalu condongkan kepala pasien ke arah depan. Beberapa orang mungkin secara refleks akan menengadahkan kepala untuk mencegah perdarahan, tetapi justru jangan lakukan itu! Aliran darah yang kembali masuk dapat berisiko tertelan atau menjadi sumbatan jalan napas
  • Tekan hidung selama 5-10 menit untuk mengontrol perdarahan
  • Selama melakukan kontrol perdarahan, perintahkan pasien untuk bernapas melalui mulut dan keluarkan darah yang tertelan
  • Gunakan kompres dingin pada hidung dan wajah untuk membantu penyempitan pembuluh darah atau yang dikenal dengan vasokonstriksi
  • Ingatkan kepada pasien untuk tidak berusaha mengeluarkan isi sumbatan karena dapat memicu perdarahan lagi
  • Apabila perdarahan masih berlangsung, aktifkan SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu) dan rujuklah ke tenaga medis profesional

Begitulah tatalaksana yang bisa diterapkan ketika mengalami mimisan atau epistaksis. Lain kali, jangan menengadahkan kepala lagi, ya!

Referensi

  1. Tabassom A, Cho JJ. Epistaxis [Internet]. Florida: StatPearls Publishing; 2021 [cited 2021 Sep 4]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK435997/
  2. Beck R, Sorge M, Schneider A, Dietz A. Current approaches to epistaxis treatment in primary and secondary care. Dtsch Arztebl Int. 2018 Jan; 115(1-2):12--22.
  3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Mimisan: Kapan berbahaya? [Internet]. Indonesia: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2019 [cited 2021 Sep 4]. Available from: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/mimisan-kapan-berbahaya